• Belajar Untuk Ikhlas

    Belajar Untuk Ikhlas

    Ketika seorang anak kekasih hatimu, yang sangat imut dan lucu, memiliki ikatan batin yang sangat kuat denganmu namun tiba-tiba saja dipanggil Tuhan, apa yang akan kamu lakukan?.

  • Kesabaran Membawa Berkat

    Kesabaran Membawa Berkat

    Saat aku tidak langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus SMK, aku sempat kecewa dan patah semangat karena apa yang selama ini kuidam-idamkan tidak kesampaian. Serasa dunia ini runtuh, mimpi yang telah kubangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping.

  • Jurusan Menentukan Masa Depan

    Jurusan Menentukan Masa Depan

    Janganlah pernah salah memilih jurusan, pilihlah sesuai bakat dan minat anda. Jangan memilih hanya karena keinginan orang lain ataupun sekedar mengikuti pilihan teman-teman lainnya.

  • Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu

    Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu

    NSekalipun ibuku tak bisa membaca dan menulis dan bahkan tak bisa berbahasa Indonesia, namun dari beliau aku belajar banyak tentang hidup, perjuangan dan kasih yang tak akan pernah kudapatkan dari sekolah manapun.

  • Sayap Sayap Patah

    Sayap Sayap Patah

    Sayap yang patah bukanlah kendala bagi seekor burung untuk terbang tinggi, dia akan tetap setia dan sabar hingga sayapnya pulih dan terbang lagi.

  • Baju Natal Yang Berkesan

    Baju Natal Yang Berkesan

    Ketika lemari penuh dengan tumpukan pakaian, anda pasti akan kebingungan memilih pakaian apa yang cocok dikenakan. Namun ketika hanya ada satu pakaian anda masih dihadapkan pada pilihan untuk memakainya.

Sekilas Tentang Aku: Seorang Anak Desa

1 comments

Yafaowoloo Gea
Nama saya Yafaowoloo Gea, sering dipanggil Yafa atau Java, dilahirkan tanggal 27 April 1982 dari sebuah keluarga petani yang tinggal di dusun II Tulumbaho, Desa Helefanikha Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli Nias. Ayah saya bernama Taliasa Gea (Ama Dano) dan Ibu saya Budisa Bate'e (Ina Dano). Masa kecilku kuhabiskan di rumah gubuk kami di desa yang dulu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Jalan raya sejauh kurang lebih 4 Km. Kami 9 orang bersaudara (awalnya 11 orang, 2 orang meninggal lebih cepat), 4 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Mereka adalah: Danosokhi Gea (Ama Bastian), Aringatan Gea (Ama Restu), Buloo Gea (Ama Zilena), Suriani Gea (Ina Kris Zebua), Yuliani Gea (Ina Ceria Bate'e), Yurina Gea (Ina Epi Zega), Sanaati Gea (Ina Vince Hura), Suniawati Gea (Ina Fani)


Read more

Belajar Untuk Ikhlas

1 comments


"Only those who have learned the power of sincere and selfless contribution experience life's deepest joy: true fulfillment." - Tony Robbins

Ketika seorang anak kekasih hatimu, yang sangat imut dan lucu, memiliki ikatan batin yang sangat kuat denganmu namun tiba-tiba saja dipanggil Tuhan, apa yang akan kamu lakukan?

Apakah menyalahkan Tuhan, dokter, orang lain atau bahkan diri sendiri?

Sebuah kisah yang baru saja kualami dua hari yang lalu ketika putra pertamaku yang bernama John Keenan Gabriel Gea, Seorang anak yang menjadi kekasih jiwaku dan telah mengisi hari-hariku sejak 12 April 2013 yang lalu. Yang selalu membawa sukacita dan rasa kangen yang amat berat bila aku tak melihat wajahnya, sekalipun hanya melalui foto yang dikirimkan mamanya setiap hari. Seorang anak yang sangat lincah, cerdas nan unik dan menawan hati. Yang selalu rajin pergi ke Sekolah Minggu dan suka memuji dan menyembah Tuhan dengan caranya yang unik. Yang telah menyempurnakan kebahagiaan kami selama 15 bulan 7 hari yang akhirnya dipanggil Tuhan setelah menderita penyakit Muntaber/ Disentri. Tepatnya pukul 01:40 WIB pada hari Sabtu, 19 Juli 2014 anak kami Keenan kembali kepada Tuhan Yesus untuk bermain bersama para malaikat di surga sana, setelah berjuang

Kepulanganku ke Nias sebulan yang lalu untuk melepas kangen dengan kekasih hatiku sekaligus mengumpulkan data untuk thesisku merupakan kali terakhir bagi kami untuk bertemu, berpelukan, bermain, menyuapi, memandikan, mengajak jalan-jalan dan berenang, membuatkan susu serta tidur di sampingnya sambil memandang wajah polosnya yang sangat menawan. 

Di saat-saat terkahirnya, aku merasakan dan menyaksikan sendiri bagaimana dia berjuang menerima hujaman jarum infus hingga suhu badannya perlahan mendingin beberapa jam kemudian. Dengan kondisi badannya yang masih lemah dia masih bisa memberikan toss (istilah kami Cass) ketika kubilang "Cass Papa Keenan" atau ketika dia melingkarkan kedua tangan mungilnya di leherku ketika kuajak "Peluk Papa Keenan". 

Ahhhh, hati siapa yang takkan hancur melihat kenyataan ini.....!!!
Hati siapa yang takkan remuk bila orang yang dicintainya tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya.....!!!

Secara manusiawi, aku mungkin saja bisa akan marah, berteriak dan menyalahkan Tuhan yang kupercaya karena teriakan doaku saat detik-detik terakhir sebelum badannya mendingin tidak mendapat jawaban dari-NYA. 

Aku tak bisa berkata apa-apa saat itu, satu hal yang kulakukan adalah hanya menyanyikan lagu "Agnus Dei" yang merupakan lagu kesukaan Keenan dengan memeluk tubuhnya yang mulai mendingin sambil bercucuran air mata menunggu kedatangan mamanya istriku tersayang dan anggota keluarga lainnya. 

Istriku yang merupakan mama dan istri super bagiku tak bisa menahan tangisnya ketika melangkahkan kaki di pintu kamar. Sambil memeluk Keenan dan istriku, aku berbisik kepadanya "Ma, mari kita berdoa dan mengikhlaskan kepergiannya". Hanya doalah yang bisa menjadi penghibur dan penguat hati kami saat itu.

Belajar untuk ikhlas sesuatu hal yang sangat sulit dilakukan, namun bila kita belajar untuk mengerti dan menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan yang dipercayakan-NYA kepada kita untuk dijaga. Titipan berarti, ada saatnya Dia memberi dan ada saatnya pula Dia akan mengambil. Kepergian anak kami Keenan bukan karena ketidakmampuan Rumah Sakit/Dokter atau karena keterlambatan pertolongan melainkan karena hanya sampai disitulah kami diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjaga titipannya. 

Percaya bahwa Tuhan telah menyediakan tempat di surga bagi Keenan untuk bermain bersama para malaikat dan menunggu pertemuan kami di sana bila waktunya kelak dipanggil Tuhan menjadi sumber penguatan iman kami untuk tetap bisa menerima kenyataan yang ada. 

"Sampai Jumpa Keenan, Papa and Mama will always love you! You will always be in our hearts. Terimakasih telah memberikan sukacita bagi kami selama kita bersama. Maafkan kami bila kami tidak bisa memberikan yang terbaik selama kami menjagamu, olehmu kami semakin cinta Tuhan Yesus".


*Kupersembahkan buat istriku Sukma Riang Zebua yang terkasih, yang merupakan istri dan mama super bagiku dan anak-anak. Mama yang terbaik, terhebat, penyayang dan perhatian serta telaten yang telah menyempurnakan hidupku. Aku sangat bersyukur dan diberkati memilikimu sebagai istri dan sahabat yang telah mengorbankan sisa hidupmu mendampingiku dan merawat anak-anak kita. Anak-anak kita pasti akan sangat beruntung dan bangga memiliki mama sepertimu, seperti hal-nya Keenan yang dengan bangganya bercerita kepada teman barunya para malaikat tentang kebaikan mamanya yang luar biasa. I DO LOVE YOU MORE THAN I CAN SAY!

*Semoga menjadi sumber penguatan bagi para sahabat yang telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya. (Termasuk kepada sahabatku Hironimus Dachi yang juga baru saja ditinggalkan anak terkasihnya. Be Strong Brother, tak kusangka bahwa pertemuan kita di rumah sakit hari itu menjadi pertanda pertemuan anakku Keenan dan anakmu di surga).




Read more

Sebungkus Nasi. Goreng, Sebuah Apel Merah, dan Ari-Ari

0 comments
 "Biar ... biar mengalir bersama air, biar pergi jauh, biar anak ini melanglang buana."



Saya mengirim email kepada mama saya bercerita bahwa saya sedih mama tidak bisa hadir di hari wisuda saya di Amerika karena kami tidak punya cukup uang. Bisa saja mama datang ke Amerika, tetapi kami berdua tahu hal itu bukan pilihan yang bijaksana jika melihat skala besar keuangan kami.
 
Mama Kemudian Membalas email Saya (Kurang Lebih Begini Isinya): .. Kirimkan Saja Foto2nya Supaya Mama BisA Lihat Lain Kali Kasih Tuhan Akan Rejeki Anak-Anak Kepada Mama.Segalanya Mungkin Karena Kita Berserah Kepada Tuhan Siapa Tahu Suatu Hari Nanti Mama Sehat Masih Dan bisa jalan-jalan ke tempat di mana anak-anak mama berada. 



Dan beliau membawa saya ke masa lalu. Masa di mana kami sangat kesulitan keuangan. Kami tidak sampai tidur di emperan toko. Tidak. Tetapi kami sangat tahu bagaimana kami harus menyangkal keinginan diri karena kami tidak punya uang. 



Setelah papa meninggal saat saya berumur empat tahun dan adik saya berumur satu tahun, mama dengan berani mengambil tanggung jawab sebagai orang tua tunggal dan itu bukan tanggung jawab yang mudah. ​​Keuangan keluarga sangat sulit karena terkuras untuk biaya pengobatan papa yang meninggal karena kanker.

Mama bercerita bahwa ketika kami masih kecil dan mama harus bekerja di dua sekolah, mama tidak punya cukup waktu untuk memasak. Sering kami membeli sebungkus nasi goreng yang lewat di depan rumah untuk dimakan bertiga. Dan nasi goreng itu adalah lauk kami untuk nasi putih. Kami mencampur nasi goreng dengan nasi putih agar nasi putih kami ada sedikit rasanya.
Mama juga bercerita bahwa saat anak-anak masih kecil, mama tidak bisa membeli apel merah untuk anak-anaknya sekalipun beliau ingin. Saya ingat pengalaman pertama saya makan apel merah adalah saat saya berumur sepuluh tahun. Mama tidak membeli sekilo apel merah. Tidak. Mama membelikan saya hanya sebuah apel merah karena hanya sebuah saja yang mampu beliau beli. Buat saya, apelnya memang merah seperti apel merah di cerita Putri Salju yang pernah saya baca. Ternyata apel merah itu memang ada dan rasanya enak. Pantas Putri Salju tergiur memakannya.
Sebelum saya berangkat ke Amerika, saya ingat beliau bercerita bahwa tidak seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya yang memendam ari-ari bayi setelah lahir di dalam tanah, ari-ari saya dibuang di sumur di belakang rumah sakit tempat saya lahir. Beliau membuangnya bersama almarhum papa saya dan papa saya saat itu berkata, "Biar ... biar mengalir bersama air, biar pergi jauh, biar anak ini melanglang buana." Apa yang papa saya katakan mengingatkan saya akan berkat seorang ayah, berkat Abraham, berkat Ishak, berkat Yakub. Saya memang belum keliling dunia, tetapi saya pernah pergi ke beberapa tempat di dunia, di luar tempat saya lahir.
Mama menutup bagian ini dengan mengajak saya bersyukur atas berkat yang sudah kami terima dan menikmatinya. "Mama juga tidak menyangka kamu bisa sampai benua mana-mana. Waktu kecil saat papa sakit, papa tanya apakah mama sanggup dititipi dua anak kecil-kecil. Kalau tidak sanggup anak-anak bisa dipulangkan ke orangtua papa. "

Dituliskan oleh: H. Anggit Adiastuti

Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:


Read more

Kesabaran Membawa Berkat

0 comments
"Saat tidak langsung sampai ke tempat tujuan: bersabar, belajarlah, tarik nafas dan perhatikan sekeliling. Tuhan sedang membekalimu dengan ilmu yang kelak digunakan dan mengijinkanmu menikmati pemandangan indah sebelum tiba di tempat tujuan" - Yafaowoloo Gea


Saat aku tidak langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus SMK, aku sempat kecewa dan patah semangat karena apa yang selama ini kuidam-idamkan tidak kesampaian. Serasa dunia ini runtuh, mimpi yang telah kubangun selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping. 

Namun setelah kurenungkan dalam-dalam, ternyata dalam jeda satu tahun sebelum kuliah itulah aku mendapatkan banyak pelajaran tentang komunikasi, menumbuhkan rasa percaya diri dan cara berinteraksi dengan orang lain. Aku yang semula tidak lancar berbicara karena latar belakangku sebagai anak desa yang dalam pergaulan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Nias membuat rasa kurang percaya diri saat berbahasa Indonesia. 

Selama satu tahun menunggu, berbagai pekerjaan kulakoni mulai dari menjadi sales marketing yang mengantarkanku menjelajah berbagai sudut kota Medan hingga ke perkampungan yang tak pernah kukunjungi. Aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, suku dan agama. Mulai dari preman, tukang becak, pengusaha, nelayan, petani dan bahkan PSK (Pekerja Seks Komersial) aku temui untuk menjajakan dagangan yang kubawa. Hingga menjadi pekerja kasar di perusahaan penampungan biji kakao (cokelat) kujalani. Dari merekalah aku belajar membangun kepercayaan diri, melatih komunikasi, beradaptasi dan menghargai hidup.

Hal selanjutnya adalah ketika lulus kuliah tahun 2007 banyak orang menyarankanku untuk melamar menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dengan membayar sejumlah uang dengan jaminan bisa langsung menang. Kala itu aku benar-benar tidak berminat sama sekali dan pekerjaan sebagai PNS adalah hal yang paling kubenci. Karena di saat itu aku tahu bahwa beberapa PNS yang telah lulus memberitahukan bahwa mereka telah menyetorkan sejumlah uang untuk kelulusan mereka, dan mereka sangat bangga akan hal itu. Formasi penerimaan PNS pada waktu itu yang masing-masing posisi hanya membutuhkan 1-3 orang, yang jauh-jauh hari sudah bisa ditebak pemenangnya antara keluarga pejabat atau penyetor uang terbesar. Hingga pada tahun 2009 ketika penerimaan PNS secara besar-besaran di Kota Gunungsitoli yang membutuhkan 8 orang dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, aku dengan iseng mencoba melamar dengan perkiraan bahwa peluang untuk menang pasti akan sangat besar. Ternyata Tuhan menghendakiku untuk menjadi PNS tanpa menyetor sepeserpun untuk bisa lolos.

Aku tak tahu berapa orang yang tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan dan berusaha mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara untuk untuk mendapatkannya. Ingatlah "Jika Tuhan sudah berkehendak, Dia akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya". Mungkin anda akan tiba di tempat tujuan anda dengan jalan pintas, namun anda tidak bisa menikmati keindahan menuju ke sana dan pastinya anda akan kurang persiapan karena terlalu terburu-buru ingin cepat sampai. Kesabaran anda untuk mencapai tempat tujuan pasti akan mendapat bayaran yang setimpal yang pastinya lebih baik dari jalan pintas. Dan Ingatlah bahwa melewati jalan pintas itu bahaya dan resikonya sangatlah besar.



Read more

Jurusan Menentukan Masa Depan

0 comments
"Sebelum melangkahkan kaki menempuh perjalanan, tentukanlah arah terlebih dahulu. Jangan salah ambil jurusan!" - Yafaowoloo Gea



Sejak dari bangku Sekolah Dasar (SD), aku sudah jatuh cinta dengan yang namanya bahasa Inggris. Berawal dari pertemuan beberapa orang asing yang beristirahat dekat sekolahku, yang secara tidak sengaja memberikan hadiah sebuah pulpen yang kuanggap sebagai sebuah kesalahpahaman. Aku sebut sebagai kesalahpahaman karena saat memperhatikan mereka sebagaimana halnya anak-anak kecil yang baru melihat orang asing, aku sambil menggenggam pulpen di tanganku. Mungkin si bule berpikir bahwa aku meminta pulpennya.

Sejak saat itu, aku termotivasi untuk belajar bahasa Inggris dengan giat. Hingga sejak SMP aku sering jadi langganan membaca teks bahasa Inggris di sekolah, padahal aku hanya modal nekat mengaitkan huruf demi huruf. Setamat dari SMP aku ingin melanjutkan ke jenjang SMk jurusan pariwisata untuk mengasah kemampuan bahasa Inggrisku, namun karena terlambat mendaftar akhirnya aku terpaksa mengambil jurusan listrik instalasi. Barulah waktu kuliah aku bisa mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris yang menjadi kesukaanku sejak masih di bangku SD.

Para tetangga dan saudara bertanya, "kenapa harus mengambil jurusan itu, kenapa bukan jurusan yang lain yang sedang ngetrend saat dan menjadi pilihan favorit lulusan SMU pada masa itu". Aku tidak mau terseret arus mengikuti teman-teman lainnya memilih jurusan yang sedang populer dan sangat diminati. Dalam hati aku sudah membulatkan tekad bahwa jurusan yang kupilih akan mampu menjembataniku ke berbagai bangsa dan negara. Hal itu memang benar terjadi karena dengan kemampuan bahasa Inggrisku yang pas-pasan, aku bisa berteman dengan orang dari berbagai bangsa dan juga mampu mengecap belajar di negeri orang. Aku menyadari bahwa menguasai bahasa asing membuat kita lebih unggul dalam menyerap ilmu pengetahuan dan informasi serta memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang.

Janganlah pernah salah memilih jurusan, pilihlah sesuai bakat dan minat anda. Jangan memilih hanya karena keinginan orang lain ataupun sekedar mengikuti pilihan teman-teman lainnya. Jurusan apapun yang anda pilih sekarang akan sangat berpengaruh pada kesuksesan anda di masa depan. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah, selektiflah memilih perguruan tinggi (PT) tempat anda menimba ilmu. Jangan kuliah di PT abal-abal yang tidak jelas statusnya. Pastikan bahwa PT yang anda tuju jurusannya sudah terakreditasi. Sudah cukup kita dengar mahasiswa yang nasibnya tidak jelas akibat salah memilih jurusan dan tempat kuliah.

Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:

Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Sayap Sayap Patah
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Baju Natal Yang Berkesan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari


Read more

Baju Natal Yang Berkesan

0 comments
"Ketika lemari penuh dengan tumpukan pakaian, anda pasti akan kebingungan memilih pakaian apa yang cocok dikenakan. Namun ketika hanya ada satu pakaian anda masih dihadapkan pada pilihan untuk memakainya" - Yafaowoloo Gea



Natal merupakan hal yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh kami anak-anak desa, karena di saat itulah orangtua membelikan kami baju baru. Tak perduli seberapa capek mereka bekerja keras untuk menabung demi sebuah baju baru di hari Natal untuk anak-anaknya, namun rasa lelah itu terbayarkan setelah melihat anak-anaknya dengan bangga bersama anak-anak lainnya ikut liturgi, lomba atau mementaskan drama Natal, sekalipun mereka sendiri hanya mengenakan baju yang telah beberapa natal selalu mereka kenakan.

Saat kecil, aku tak berani meminta dibelikan baju baru kepada ayah ibuku karena jangankan untuk sepasang baju baru, untuk membeli ikan asin sajapun mereka masih mempertimbangkannya. Bukan karena mereka pelit bukan juga karena tidak mau memakan ikan asin, namun karena kesulitan ekonomi memaksa mereka untuk menentukan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Aku terkejut ketika tiba-tiba kakak perempuan tertuaku mengukur badanku beberapa hari sebelum perayaan Natal. Dengan senyum khasnya dia meminta aku dan almarhum abangku untuk menemaninya ke rumah saudara yang memiliki mesin jahit yang berjarak sekitar 5 Km dari rumah kami. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di perbukitan, menyeberangi sungai  dengan sebuah kantong plastik di tangannya berisi meter kain berwarna putih dan hitam. 

Aku tak tahu kapan dia membeli bakal kain itu, dia hanya berkata "baju ini kakak jahitkan untuk kalian berdua agar bisa mengikuti lomba vokal solo di gereja nanti". Kebetulan aku dan abangku mengikuti lomba vokal solo yang dilaksanakan untuk menyambut perayaan natal di gereja kami. 

Karena lomba tinggal beberapa hari lagi, kakakku bekerja keras untuk menyelesaikan pengerjaan jahitan bajunya. Namun satu hari tidaklah cukup baginya untuk menyelesaikan kedua pasang baju tersebut sehingga harus kembali di hari berikutnya hanya agar kedua adiknya dapat mengenakan baju baru saat mengikuti lomba.

Akhirnya hari pelaksanaan lomba tiba, dengan wajah merasa bersalah kakakku meminta maaf karena masih belum sempat memasangkan kancing di kemeja dengan alasan tidak sempat lagi sekalipun aku tahu bahwa kancing bajunya masih belum dibelikan karena tidak ada uang. Dengan mata sedikit berair dia mengumpulkan peniti dari baju ibuku untuk disematkan di kedua kemeja kami sambil berkata "selamat berlomba ya dek, semoga jadi juara". Kami bergegas ke gereja dengan wajah gembira bersama abangku, mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kemeja putih berlengan pendek yang agak kekecilan karena bahannya pas-pasan.

Kami pulang dari lomba tanpa menjadi juara, masih kuingat kakakku menyambut kami di depan pintu menanyakan hasilnya. Tak kulihat raut kekecewaan di wajahnya, dia malah memberikan semangat agar lain kali ikut lomba lagi sambil berkata "kalian kelihatan cakep dengan baju baru kalian". 

Saat perayaan Natal tiba, kulihat kakakku dengan pakaian yang sama seperti yang dipakainya pada natal tahun yang lalu. Hanya kami berdua dengan almarhum abangku yang mengenakan baju baru diantara anggota keluarga kami.

Mungkin bagi anak-anak lainnya dari keluarga berada, mendapatkan baju baru dengan model apapun bukanlah hal yang sulit dan tidak harus menunggu hingga Natal atau hari Raya untuk memperolehnya. Tapi bagi kami anak desa, memiliki baju baru sekali setahun itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Kami masih beruntung karena masih bisa mengenakan pakaian karena masih banyak anak-anak lain di belahan dunia sana yang hidup tanpa baju dan makanan. Satu hal yang masih kuingat adalah ketika almarhum abangku meninggal, dia hanya membawa sepasang pakaian yang melekat di badannya.

Tulisan ini kudedikasikan buat kakakku Suriani Gea (Ina Kris Zebua) yang saat ini sedang dalam proses penyembuhan penyakit Diabetesnya, yang telah menjahitkan baju natal yang sangat berkesan bagiku sebagai hasil jahitan pertamanya setelah belajar menjahit. In Memoriam buat almarhum abangku, sahabat kecilku Yasatulo Gea.

Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:

Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Sayap Sayap Patah
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari




Read more

Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu

0 comments
"Sekalipun ibuku tak bisa membaca dan menulis dan bahkan tak bisa berbahasa Indonesia, namun dari beliau aku belajar banyak tentang hidup, perjuangan dan kasih yang tak akan pernah kudapatkan dari sekolah manapun" - Yafaowoloo Gea



Teringat di masa kecil di suatu saat ketika kami sekeluarga berkumpul untuk makan malam. Aku sangat senang kala itu karena menunya adalah makanan kesukaanku, yakni kacang hijau yang dimasak bercampur nasi. Kebahagiaan itu sangat terasa sekalipun menunya bukanlah 4 sehat 5 sempurna seperti yang sering kudengar dari guruku, namun hanya kacang hijau dan nasi putih yang dijatah di atas piring mungil. Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika salah satu kakakku datang menggoda dan sebagai anak kecil yang sedikit manja aku mengamuk dan membanting piring yang ada di tanganku. Padahal acara makan masih belum dimulai, aku menangis sejadi-jadinya karena makananku ikut tertumpah ke lantai. Dengan sabarnya ibuku membujukku agar berhenti menangis dan bahkan menyuapiku dengan makanan yang sebenarnya adalah jatahnya. Dengan senyum di wajahnya dia terus menyemangatiku untuk menghabiskan makanan yang masih belum disentuhnya itu. Sekalipun sebenarnya saat itu dia kelaparan karena baru pulang dari kebun dan membawa seikat besar daun ubi di kepalanya. Ketika terbangun dari tidurku untuk buang air kecil melewati dapur, aku melihat sosok wanita di perapian sedang membakar beberapa pisang untuk dimakan, dan wanita itu adalah ibuku.

Pengorbanan ibuku bukan hanya kali itu saja, suatu saat ketika aku sedang sakit keras dan tidak kuat berjalan karena demam tinggi. Saat itu aku kelas 2 SMP dan tinggiku sudah melebihi ibuku. Beliau posturnya pendek sekitar 145 Cm sementara aku sekitar 150 Cm waktu itu. Karena jauhnya Rumah Sakit dan tak ada puskesma terdekat di kampungku, ibuku membawaku ke seorang tukang pijat yang jaraknya 2,5 Km dari rumah kami. Dengan badannya yang kecil, ibuku sanggup menggendongku dengan berjalan kaki di punggungnya tanpa menunjukkan rasa lelah di wajahnya, sekalipun dia harus naik turun bukit mengikuti jalanan yang tak beraspal. 

Sekalipun aku nakal, ibuku tak pernah benar-benar memarahiku. Palingan kalau beliau sudah sangat kesal, sebuah cubitan kecil akan mendarat di pahaku. Sebenarnya beliau tidak tega untuk mencubit, buktinya ketika aku sudah menangis dia akan mendekapku erat dalam pelukannya sambil berkat "makanya, lain kali jangan nakal ya nak". Aku seringkali menipunya ketika kecil, terutama ketika meminta uang dengan alasan keperluan sekolah yang sebenarnya kugunakan untuk membeli jajananku. Sekalipun beliau akhirnya tahu, namun dia tak pernah berhenti memberikanku uang untuk kebutuhanku. Beliau selalu menyembunyikan duit simpanannya di celah-celah ranjang atau di dalam lipatan bajunya yang selalu kutemukan dan sesekali kuambil beberapa ratus rupiha tanpa sepengetahuan beliau. Aku tak tahu apa dia benar-benar tak tahu atau pura-pura tidak tahu. Yang kutahu adalah bahwa dia rela menahan diri untuk tidak naik ojek ketika pergi ke pasar tradisional yang berjarak 5 Km dari rumahku dan bahkan tidak membelikan minuman untuk mengobati dahaganya di panas terik ketika pulang belanja hanya demi menghemat beberapa ratus perak untuk persiapan kebutuhan kami.

Setelah menikah, aku baru merasakan bagaimana seorang ibu bertarung antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang bayi. Itu kurasakan ketika istriku melahirkan anak-anak kami. Sembilan bulan lamanya mereka membawa kita kemana-mana, mereka rela menahan selera makanan, mual-mual hingga muntah, pusing, sakit pinggang, tidak bisa tidur dengan bebas, harus merelakan bagian tubuhnya di jahit, tiap malam tidurnya tidak nyenyak karena harus memberikan susu/asi untuk kita, hingga kesal karena melihat ulah kita yang nakal yang selalu membantah setiap perkataannya. Satu hal yang membuat mereka senang ketika mereka bisa memeluk dan mencium kita, melihat kita tertidur pulas. Mereka tak pernah mengeluh, bahkan sesibuk, selapar dan secapek apapun mereka, selalu ada waktu mereka untuk kita. 

Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu ketika anak-anak mereka membantah dan melawan saat diminta untuk mengerjakan sesuatu. Saat anak-anak tak mempedulikan mereka lagi ketika sudah besar, saat anak-anaknya tak mengurus mereka ketika sudah tua.

Terimakasih ibu, aku takkan pernah bisa membalas kasih dan pengorbananmu dalam kehidupanku. Kasih ibu sepanjang jalan dan tak akan lekang oleh waktu.

Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:

Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Sayap Sayap Patah
Baju Natal Yang Berkesan
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari


Read more