"Only those who have learned the power of sincere and
selfless contribution experience life's deepest joy: true fulfillment." - Tony Robbins
Ketika seorang anak kekasih hatimu, yang sangat imut dan lucu, memiliki ikatan batin yang sangat kuat denganmu namun tiba-tiba saja dipanggil Tuhan, apa yang akan kamu lakukan?
Apakah menyalahkan Tuhan, dokter, orang lain atau bahkan diri sendiri?
Sebuah kisah yang baru saja kualami dua hari yang lalu ketika putra pertamaku yang bernama John Keenan Gabriel Gea, Seorang anak yang menjadi kekasih jiwaku dan telah mengisi hari-hariku sejak 12 April 2013 yang lalu. Yang selalu membawa sukacita dan rasa kangen yang amat berat bila aku tak melihat wajahnya, sekalipun hanya melalui foto yang dikirimkan mamanya setiap hari. Seorang anak yang sangat lincah, cerdas nan unik dan menawan hati. Yang selalu rajin pergi ke Sekolah Minggu dan suka memuji dan menyembah Tuhan dengan caranya yang unik. Yang telah menyempurnakan kebahagiaan kami selama 15 bulan 7 hari yang akhirnya dipanggil Tuhan setelah menderita penyakit Muntaber/ Disentri. Tepatnya pukul 01:40 WIB pada hari Sabtu, 19 Juli 2014
anak kami Keenan kembali kepada Tuhan Yesus untuk bermain bersama para
malaikat di surga sana, setelah berjuang
Kepulanganku ke Nias sebulan yang lalu untuk melepas kangen dengan kekasih hatiku sekaligus mengumpulkan data untuk thesisku merupakan kali terakhir bagi kami untuk bertemu, berpelukan, bermain, menyuapi, memandikan, mengajak jalan-jalan dan berenang, membuatkan susu serta tidur di sampingnya sambil memandang wajah polosnya yang sangat menawan.
Di saat-saat terkahirnya, aku merasakan dan menyaksikan sendiri bagaimana dia berjuang menerima hujaman jarum infus hingga suhu badannya perlahan mendingin beberapa jam kemudian. Dengan kondisi badannya yang masih lemah dia masih bisa memberikan toss (istilah kami Cass) ketika kubilang "Cass Papa Keenan" atau ketika dia melingkarkan kedua tangan mungilnya di leherku ketika kuajak "Peluk Papa Keenan".
Ahhhh, hati siapa yang takkan hancur melihat kenyataan ini.....!!!
Hati siapa yang takkan remuk bila orang yang dicintainya tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya.....!!!
Secara manusiawi, aku mungkin saja bisa akan marah, berteriak dan menyalahkan Tuhan yang kupercaya karena teriakan doaku saat detik-detik terakhir sebelum badannya mendingin tidak mendapat jawaban dari-NYA.
Aku tak bisa berkata apa-apa saat itu, satu hal yang kulakukan adalah hanya menyanyikan lagu "Agnus Dei" yang merupakan lagu kesukaan Keenan dengan memeluk tubuhnya yang mulai mendingin sambil bercucuran air mata menunggu kedatangan mamanya istriku tersayang dan anggota keluarga lainnya.
Istriku yang merupakan mama dan istri super bagiku tak bisa menahan tangisnya ketika melangkahkan kaki di pintu kamar. Sambil memeluk Keenan dan istriku, aku berbisik kepadanya "Ma, mari kita berdoa dan mengikhlaskan kepergiannya". Hanya doalah yang bisa menjadi penghibur dan penguat hati kami saat itu.
Belajar untuk ikhlas sesuatu hal yang sangat sulit dilakukan, namun bila kita belajar untuk mengerti dan menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan yang dipercayakan-NYA kepada kita untuk dijaga. Titipan berarti, ada saatnya Dia memberi dan ada saatnya pula Dia akan mengambil. Kepergian anak kami Keenan bukan karena ketidakmampuan Rumah Sakit/Dokter atau karena keterlambatan pertolongan melainkan karena hanya sampai disitulah kami diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjaga titipannya.
Percaya bahwa Tuhan telah menyediakan tempat di surga bagi Keenan untuk bermain bersama para malaikat dan menunggu pertemuan kami di sana bila waktunya kelak dipanggil Tuhan menjadi sumber penguatan iman kami untuk tetap bisa menerima kenyataan yang ada.
"Sampai Jumpa Keenan, Papa and Mama will always love you! You will always be in our hearts. Terimakasih telah memberikan sukacita bagi kami selama kita bersama. Maafkan kami bila kami tidak bisa memberikan yang terbaik selama kami menjagamu, olehmu kami semakin cinta Tuhan Yesus".
*Kupersembahkan buat istriku Sukma Riang Zebua yang terkasih, yang merupakan istri dan mama super bagiku dan anak-anak. Mama yang terbaik, terhebat, penyayang dan perhatian serta telaten yang telah menyempurnakan hidupku. Aku sangat bersyukur dan diberkati memilikimu sebagai istri dan sahabat yang telah mengorbankan sisa hidupmu mendampingiku dan merawat anak-anak kita. Anak-anak kita pasti akan sangat beruntung dan bangga memiliki mama sepertimu, seperti hal-nya Keenan yang dengan bangganya bercerita kepada teman barunya para malaikat tentang kebaikan mamanya yang luar biasa. I DO LOVE YOU MORE THAN I CAN SAY!
*Semoga menjadi sumber penguatan bagi para sahabat yang telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya. (Termasuk kepada sahabatku Hironimus Dachi yang juga baru saja ditinggalkan anak terkasihnya. Be Strong Brother, tak kusangka bahwa pertemuan kita di rumah sakit hari itu menjadi pertanda pertemuan anakku Keenan dan anakmu di surga).