Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu

0 comments
"Sekalipun ibuku tak bisa membaca dan menulis dan bahkan tak bisa berbahasa Indonesia, namun dari beliau aku belajar banyak tentang hidup, perjuangan dan kasih yang tak akan pernah kudapatkan dari sekolah manapun" - Yafaowoloo Gea



Teringat di masa kecil di suatu saat ketika kami sekeluarga berkumpul untuk makan malam. Aku sangat senang kala itu karena menunya adalah makanan kesukaanku, yakni kacang hijau yang dimasak bercampur nasi. Kebahagiaan itu sangat terasa sekalipun menunya bukanlah 4 sehat 5 sempurna seperti yang sering kudengar dari guruku, namun hanya kacang hijau dan nasi putih yang dijatah di atas piring mungil. Kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika salah satu kakakku datang menggoda dan sebagai anak kecil yang sedikit manja aku mengamuk dan membanting piring yang ada di tanganku. Padahal acara makan masih belum dimulai, aku menangis sejadi-jadinya karena makananku ikut tertumpah ke lantai. Dengan sabarnya ibuku membujukku agar berhenti menangis dan bahkan menyuapiku dengan makanan yang sebenarnya adalah jatahnya. Dengan senyum di wajahnya dia terus menyemangatiku untuk menghabiskan makanan yang masih belum disentuhnya itu. Sekalipun sebenarnya saat itu dia kelaparan karena baru pulang dari kebun dan membawa seikat besar daun ubi di kepalanya. Ketika terbangun dari tidurku untuk buang air kecil melewati dapur, aku melihat sosok wanita di perapian sedang membakar beberapa pisang untuk dimakan, dan wanita itu adalah ibuku.

Pengorbanan ibuku bukan hanya kali itu saja, suatu saat ketika aku sedang sakit keras dan tidak kuat berjalan karena demam tinggi. Saat itu aku kelas 2 SMP dan tinggiku sudah melebihi ibuku. Beliau posturnya pendek sekitar 145 Cm sementara aku sekitar 150 Cm waktu itu. Karena jauhnya Rumah Sakit dan tak ada puskesma terdekat di kampungku, ibuku membawaku ke seorang tukang pijat yang jaraknya 2,5 Km dari rumah kami. Dengan badannya yang kecil, ibuku sanggup menggendongku dengan berjalan kaki di punggungnya tanpa menunjukkan rasa lelah di wajahnya, sekalipun dia harus naik turun bukit mengikuti jalanan yang tak beraspal. 

Sekalipun aku nakal, ibuku tak pernah benar-benar memarahiku. Palingan kalau beliau sudah sangat kesal, sebuah cubitan kecil akan mendarat di pahaku. Sebenarnya beliau tidak tega untuk mencubit, buktinya ketika aku sudah menangis dia akan mendekapku erat dalam pelukannya sambil berkat "makanya, lain kali jangan nakal ya nak". Aku seringkali menipunya ketika kecil, terutama ketika meminta uang dengan alasan keperluan sekolah yang sebenarnya kugunakan untuk membeli jajananku. Sekalipun beliau akhirnya tahu, namun dia tak pernah berhenti memberikanku uang untuk kebutuhanku. Beliau selalu menyembunyikan duit simpanannya di celah-celah ranjang atau di dalam lipatan bajunya yang selalu kutemukan dan sesekali kuambil beberapa ratus rupiha tanpa sepengetahuan beliau. Aku tak tahu apa dia benar-benar tak tahu atau pura-pura tidak tahu. Yang kutahu adalah bahwa dia rela menahan diri untuk tidak naik ojek ketika pergi ke pasar tradisional yang berjarak 5 Km dari rumahku dan bahkan tidak membelikan minuman untuk mengobati dahaganya di panas terik ketika pulang belanja hanya demi menghemat beberapa ratus perak untuk persiapan kebutuhan kami.

Setelah menikah, aku baru merasakan bagaimana seorang ibu bertarung antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang bayi. Itu kurasakan ketika istriku melahirkan anak-anak kami. Sembilan bulan lamanya mereka membawa kita kemana-mana, mereka rela menahan selera makanan, mual-mual hingga muntah, pusing, sakit pinggang, tidak bisa tidur dengan bebas, harus merelakan bagian tubuhnya di jahit, tiap malam tidurnya tidak nyenyak karena harus memberikan susu/asi untuk kita, hingga kesal karena melihat ulah kita yang nakal yang selalu membantah setiap perkataannya. Satu hal yang membuat mereka senang ketika mereka bisa memeluk dan mencium kita, melihat kita tertidur pulas. Mereka tak pernah mengeluh, bahkan sesibuk, selapar dan secapek apapun mereka, selalu ada waktu mereka untuk kita. 

Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan seorang ibu ketika anak-anak mereka membantah dan melawan saat diminta untuk mengerjakan sesuatu. Saat anak-anak tak mempedulikan mereka lagi ketika sudah besar, saat anak-anaknya tak mengurus mereka ketika sudah tua.

Terimakasih ibu, aku takkan pernah bisa membalas kasih dan pengorbananmu dalam kehidupanku. Kasih ibu sepanjang jalan dan tak akan lekang oleh waktu.

Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:

Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Sayap Sayap Patah
Baju Natal Yang Berkesan
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari


Post a Comment