"Sayap yang patah bukanlah kendala bagi seekor burung untuk terbang tinggi, dia akan tetap setia dan sabar hingga sayapnya pulih dan terbang lagi" - Yafaowoloo Gea
Kala masih kecil, aku pernah memelihara seekor burung yang sayapnya patah akibat diketapel almarhum abangku, sedih rasanya melihat dia berjalan tertatih berusaha untuk melompat ke sana ke mari. Namun aku tak melihat rasa sedih di mata sang burung, dengan penuh semangat dia terus bergerak dan berlatih untuk terbang. Karena rasa kasihan, aku menjaganya hingga seminggu lebih dengan menempelkan pisang yang sudah kulembutkan pada sayapnya yang patah. Akhirnya setelah seminggu sayapnya pulih dan berhasil terbang kembali. Aku sangat bahagia karena sang burung bisa kembali menghirup udara bebas. Kebahagiaan yang paling utama adalah ketika setelah itu dia sering bertengger di atas pohon jeruk dekat rumah setiap pagi, memperdengarkan suara merdu. Awalnya aku tak mengenalinya, namun karena sering berkicau dan setelah kuperhatikan lebih dekat ternyata dia adalah sang burung yang sempat menjadi sahabatku ketika sayapnya patah.
Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang di alami oleh sang burung di atas. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Ketika cita-cita masa kecil tidak bisa terwujudkan atau ketika rencana untuk langsung melanjutkan studi setamat SMA harus kandas dan harus menunggu selama satu tahun hingga sebuah mujizat terjadi.
Seorang teman dekatku waktu SMP pernah bertanya, "apa cita-citamu jika besar nanti"?
Saat melihat pesawat yang kadang melintas di atas rumahku waktu kecil dan membayangkan kegagahan seorang pilot, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pilot jika besar nanti. Oh ya, melihat pesawat merupakan hal yang paling langka dan menyenangkan ketika aku masih kecil. Setiap mendengar deru suara pesawat kami langsung berlarian ke luar rumah sambil berteriak "ada pesawat... ada pesawat....". Kami sering melambaikan tangan ke arah pesawat berharap bahwa pilotnya bisa melihat ke arah kami, sekalipun aku menyadari bahwa sang pilot pasti tidak akan melihat kami karena terhalang rerimbunan pohon.
Setelah besar aku belajar realistis bahwa latar belakangku keluargaku yang miskin tak mungkin mengantarkanku jadi pilot, akhirnya aku mengganti cita-citaku menjadi seorang diplomat yang bisa keliling dunia.
Ternyata profesiku saat ini bukanlah seorang pilot ataupun seorang diplomat, apa yang kujalani sangat jauh beda dengan cita-cita masa kecilku. Namun, sekalipun tak menjadi seorang pilot aku bisa naik pesawat hingga puluhan kali dan sekalipun tak menjadi diplomat aku bisa menginjakkan kaki di negeri orang. Bahkan kesempatan tersebut kudapatkan dengan gratis karena mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studiku di negeri sakura Jepang dan bisa bertemu dengan para mahasiswa dari berbagai negara (kurang lebih 40 puluh negara).
Sayap patah bukan kendala untuk terbang, cita-cita atau rencana tak sampai bukan alasan untuk berputus asa. Tetaplah setia, semangat dan berusaha, Mujizat itu pasti ada. Jika Tuhan sudah berkehendak, Dia pasti akan membukakan jalan dengan caranya yang ajaib. Cita-cita untuk menjadi pilot dan diplomat memang tak terwujud tapi tujuanku untuk terbang tinggi di angkasa dan melanglang buana bisa kesampaian. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah dalam kehidupan kita, kuncinya adalah dengan berdoa, bersabar, setia dan berusaha.
Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:
Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Baju Natal Yang Berkesan
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari
Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:
Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya
Saat AKu Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah
Baju Natal Yang Berkesan
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari

Post a Comment