Aku dan Mimpi Masa Kecil #2 Saat Aku Harus Bekerja Mengais Puing-Puing Rupiah

3 comments
"Bekerja keras di masa kecil takkan membuat tulangmu keropos dan membuat ototmu menciut, bahkan anda akan terlatih untuk memiliki tulang yang kuat dan otot yang kencang" - Yafaowoloo Gea


Saat berpapasan dengan anak-anak kecil yang bertelanjang dada di sebuah jalanan kampung, kulihat otot-otot yang terbentuk mengkilat dibasahi oleh peluh dengan tekstur tulang yang kuat. Di kepala dan bahu mereka berjuntai beban yang sesungguhnya melebihi dari berat badan mereka sendiri. Pastinya orang-orang kota iri melihat tubuh kekar mereka dan berpikir bahwa mereka menghabiskan waktu dengan biaya mahal di tempat fitness untuk mendapatkan tubuh ideal tersebut.

Sekalipun badanku tidak sekekar mereka saat ini karena faktor usia dan lemak yang tak mau diajak kompromi disekujur tubuhku, namun aku berbangga karena dulu pernah mengecap latihan angkat beban alami seperti yang mereka lakukan. 

Aku tidak seperti anak lainnya yang memiliki banyak waktu untuk bermain atau duduk selama ber jam-jam di depan layar televisi menonton film kartun kesukaan. Bukan karena orang tuaku anti terhadap informasi dan teknologi, namun karena media hiburan bukanlah prioritas dalam kehidupan kami di masa itu. Jangankan untuk membeli sebuah televisi, untuk membeli se-kilo beras saja masih harus berpikir, apalagi hingga saat itu aliran listrik masih belum masuk ke kampungku.

Mainanku adalah berpindah dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya yang menjulang tinggi hanya untuk mendapatkan daging kelapa (kopra) untuk dijual demi membayar uang sekolah dan sebagian lagi untuk jajan. Atau bermain dengan derasnya arus sungai untuk mengangkut kerikil yang sering membuat kulit pundakku terkelupas akibat sering bergesekan dengan jeriken plastik yang berat yang hingga saat ini bila aku berdiri di depan cermin melihat pundak kananku lebih rendah dari pundak kiriku.

Latihan angkat bebanku bukanlah menggunakan dumbbell atau barbell, aku dilatih sejak kecil untuk mengangkut bulir padi yang akan dibawa ke penggilingan, kayu bakar, daun ubi, jeriken air minum atau kelapa kopra dari kebun kami.

Hingga di bangku kuliahpun aku harus bekerja menjadi pria malam, melayani pesanan dan menyajikan hidangan sebagai pramusaji di sebuah cafe sepulang kuliah. Tak jarang daku harus berjalan kaki dari tempat kerja ke kontrakan mungilku di tengah malam karena tak mendapatkan angkot.

Aku sungguh tak menyesali latihan yang kualami di masa kecil itu, bahkan aku sangat beruntung karena hasil dari latihan itu aku menjadi kuat dan sehat serta terlatih untuk bekerja keras. Aku menjadi terbiasa untuk melakukan pekerjaan yang tidak setiap orang memiliki kesempatan untuk melakoninya. Berbagai kesempatan emas bisa kuraih akibat dari latihan dan didikan orang tuaku yang mengajarkan untuk tidak malu mengerjakan segala sesuatu yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Baca Kisa Sebelumnya di Aku Dan Mimpi Masa Kecil #1 Saat Hidup Tak Seperti Anak-Anak Lainnya


Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:

Baju Natal Yang Berkesan
Sayap Sayap Patah
Arti Perjuangan dan Kasih Seorang Ibu
Jurusan Menentukan Masa Depan
Kesabaran Membawa Berkat
Sebungkus Nasi Goreng, Sebuah Apel Merah dan Ari Ari


3 comments:

  1. nice brother, touch really.... thanks you have share this story. this is one of motivation for us and specially for ordinary kids :)

    ReplyDelete
  2. Thank you very much Yurmina... Hope it can touch and encourage many more people

    ReplyDelete
  3. tough life....will make us stronger and gak bikin kita gampang cengeng ....inspire......

    ReplyDelete