"Biar ... biar mengalir bersama air, biar pergi jauh, biar anak ini melanglang buana."
Saya mengirim email kepada mama saya bercerita bahwa saya sedih mama tidak bisa hadir di hari wisuda saya di Amerika karena kami tidak punya cukup uang. Bisa saja mama datang ke Amerika, tetapi kami berdua tahu hal itu bukan pilihan yang bijaksana jika melihat skala besar keuangan kami.
Saya mengirim email kepada mama saya bercerita bahwa saya sedih mama tidak bisa hadir di hari wisuda saya di Amerika karena kami tidak punya cukup uang. Bisa saja mama datang ke Amerika, tetapi kami berdua tahu hal itu bukan pilihan yang bijaksana jika melihat skala besar keuangan kami.
Mama Kemudian Membalas email Saya (Kurang Lebih Begini Isinya): .. Kirimkan Saja Foto2nya Supaya Mama BisA Lihat Lain Kali Kasih Tuhan Akan Rejeki Anak-Anak Kepada Mama.Segalanya Mungkin Karena Kita Berserah Kepada Tuhan Siapa Tahu Suatu Hari Nanti Mama Sehat Masih Dan bisa jalan-jalan ke tempat di mana anak-anak mama berada.
Dan beliau membawa saya ke masa lalu. Masa di mana kami sangat kesulitan keuangan. Kami tidak sampai tidur di emperan toko. Tidak. Tetapi kami sangat tahu bagaimana kami harus menyangkal keinginan diri karena kami tidak punya uang.
Setelah papa meninggal saat saya berumur empat tahun dan adik saya berumur satu tahun, mama dengan berani mengambil tanggung jawab sebagai orang tua tunggal dan itu bukan tanggung jawab yang mudah. Keuangan keluarga sangat sulit karena terkuras untuk biaya pengobatan papa yang meninggal karena kanker.
Mama bercerita bahwa ketika kami masih kecil dan mama harus bekerja di dua sekolah, mama tidak punya cukup waktu untuk memasak. Sering kami membeli sebungkus nasi goreng yang lewat di depan rumah untuk dimakan bertiga. Dan nasi goreng itu adalah lauk kami untuk nasi putih. Kami mencampur nasi goreng dengan nasi putih agar nasi putih kami ada sedikit rasanya.
Mama juga bercerita bahwa saat anak-anak masih kecil, mama tidak bisa membeli apel merah untuk anak-anaknya sekalipun beliau ingin. Saya ingat pengalaman pertama saya makan apel merah adalah saat saya berumur sepuluh tahun. Mama tidak membeli sekilo apel merah. Tidak. Mama membelikan saya hanya sebuah apel merah karena hanya sebuah saja yang mampu beliau beli. Buat saya, apelnya memang merah seperti apel merah di cerita Putri Salju yang pernah saya baca. Ternyata apel merah itu memang ada dan rasanya enak. Pantas Putri Salju tergiur memakannya.
Sebelum saya berangkat ke Amerika, saya ingat beliau bercerita bahwa tidak seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya yang memendam ari-ari bayi setelah lahir di dalam tanah, ari-ari saya dibuang di sumur di belakang rumah sakit tempat saya lahir. Beliau membuangnya bersama almarhum papa saya dan papa saya saat itu berkata, "Biar ... biar mengalir bersama air, biar pergi jauh, biar anak ini melanglang buana." Apa yang papa saya katakan mengingatkan saya akan berkat seorang ayah, berkat Abraham, berkat Ishak, berkat Yakub. Saya memang belum keliling dunia, tetapi saya pernah pergi ke beberapa tempat di dunia, di luar tempat saya lahir.
Mama menutup bagian ini dengan mengajak saya bersyukur atas berkat yang sudah kami terima dan menikmatinya. "Mama juga tidak menyangka kamu bisa sampai benua mana-mana. Waktu kecil saat papa sakit, papa tanya apakah mama sanggup dititipi dua anak kecil-kecil. Kalau tidak sanggup anak-anak bisa dipulangkan ke orangtua papa. "
Dituliskan oleh: H. Anggit Adiastuti
Silakan baca tulisan inspirasi lainnya di:
Post a Comment